Kenapa kembali menulis?

Assalamualaikum warmatullahi wabarakatu
Halo semua, salam jumpa.

pertama-tama saya minta maaf atas judul yang membuat saya seolah adalah penulis besar yang sudah lama berhenti menulis/ hiatus dan karyanya ditunggu-tunggu banyak fans seperti komikus "hunter x hunter" atau yang lainya. Sangat di sayangkan saya hanyalah orang biasa yang menulis untuk diri sendiri saja, ya setidaknya untuk saat ini.

Semua orang punya iblisnya masing-masing, kebanyakan orang menganggapnya buruk dan mencoba menghindarinya sebisa mungkin yang malah membuatnya seringkali muncul di tempat yang salah, sebagian orang lain justru sebaliknya, dia memberi tempat untuk iblis tersebut dan menari-nari denganya. Iblis yang saya maksud disini adalah ego, bisa juga disebut idealisme. Setiap orang memiliki perspektif sendiri tentang hidup, tentang manusia, juga tentang berbagai hal, setiap orang juga pasti memiliki keinginan tersendiri agar perspektif tersebut bisa di terima oleh orang lain, dan saat hal itu tidak terpenuhi munculah iblis yang kita sebut tadi. hal tersebut tidak akan terjadi bila kita menerima iblis itu, lalu memberikanya tempat tersendiri untuk di kembangkan, dan bagi saya tempat untuk iblis tersebut adalah karya-karya tulis saya, Yang walau bagi banyak orang belum bisa dibilang karya.

Saya menyadari betul bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk berekspresi, untuk menyampaikan pendapat, untuk menyampaikan kegelisahan, istilahnya memberi makan ego lah. Di karya tulis itu lah semua bisa saya curahkan, sebagai tempat si iblis tadi. Tidak harus karya tulis semacam puisi atau cerita, orang-orang punya media berekspresi masing-masing, ada yang dengan cara melukis, ada yang dengan cara membuat pahatan, ada yang dengan cara membuat karya audio visual, dan banyak cara lain. Namun bagi saya pribadi cara terbaik untuk menuangkan ego adalah dengan menulis. Tidak harus semua orang mengerti, tidak harus semua orang menerima, yang penting diri kita puas sudah memberi tempat terhadap ego tersebut, karena itu lah tujuannya. Sayang sekali kebanyakan orang justru menghindari ego tersebut, yang sebenarnya bisa dijadikan dirinya menjadi dirinya sendiri yang sebenarnya, karena ego itu diri sendiri yang punya, setiap orang punya warna yang berbeda membuat diri kita menjadi unik dan berbeda dari manusia lain.

Efek dari semua hal di atas itu sangat signifikan bagi saya. Karena ego yang telah di alokasikan ke tempat yang seharusnya, saya menjadi pribadi yang lebih baik di tempat lain, dengan lebih mampu mengolah ego dan terbuka pada pandangan orang lain. Selain itu saya juga jadi lebih mengenal diri saya sendiri.


Sebenarnya dunia tulis ini bagi saya di masa lalu juga sama, yaitu sebagai media untuk mencurahkan ego saya, selain itu juga untuk mengejar impian saya sebagai penulis. Sayangnya beberapa hal membuat saya berhenti dan melupakan impian tersebut, hingga Sekarang saya kembali ke dunia ini. Lalu pertanyaanpun muncul. Kenapa kembali menulis? Semua akibat pasti memerlukan sebab kan, dan sebab kenapa saya menulis adalah karena sesosok dosen bahasa Indonesia yaitu bapak Puji Anto M.Pd. 

Pada awalnya saya cukup pesimis terhadap matkul ini, dengan memikirkan matkul ini adalah matkul yang membosankan dan tidak ada gunanya, di perkuat dengan stereotip yang berbunyi kurang lebih seperti "ngapain kita belajar bahasa Indonesia, orang kita udah kancah bahasa Indonesia, pelajaran bahasa Indonesia bosenin paling belajar surat doang." Dengan malas yang hebat saya masuk ke kelas itu dan kenyataanya justru 180° dari yang saya pikirkan. Pak Puji benar-benar merubah mindset saya terhadap bahasa Indonesia dan pelajaran bahasa Indonesia. 

Pak Puji adalah orang yang percaya bahwa bahasa memiliki kekuatan yang besar, bahkan lebih besar dari apapun. Bahasa bisa membuat kekacauan, bahasa bisa membuat kesepakatan, bahkan bahasa juga bisa membuat kedamaian. Pak Puji membawa perspektif baru tentang bahasa bagi saya, terutama bahasa Indonesia, yang bahkan beberapa hal dari perspektifnya juga bersebrangan dengan idealisme saya, tapi itu bisa diterima. Karakter beliau bisa dibilang mirip dengan pak balia di novel "sang pemimpi" sosok yang mengajar dengan ceria dan semangat, bahkan dia punya prinsip dalam sistem mengajarnya yang berbunyi kurang lebih "kalian sudah punya masalah masing-masing diluar sana, jadi kalau kalian sudah masuk ke kelas saya kalian harus bahagia." Dosen seperti ini lah yang dibutuhkan mahasiswa, pikirku.

Dari berbagai macam pemikiran dan perspektifnya entah kenapa membuat saya ingin kembali menulis, menulis apa saja, tidak apa walau hanya saya sendiri yang menikmati, menulis untuk memberi tempat kepada ego saya. Selain itu entah kenapa ada sedikit keinginan untuk mewujudkan impian yang sudah lama saya tinggalkan.

Dengan kembali menulis, saya memiliki sedikit kekuatan untuk hidup, ditengah gagal yang melanda juga lemahnya jiwa. Semoga kelak semua akan indah.



instagram: @aziznurafrian
Podcast: Monolog Kehidupan
Email: Abdulaziz0804.aan@gmail.com

Comments

Popular Posts